ü Masyhudulhakk : arif, bijaksana, suka menolong, cerdik, baik hati.
ú …Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu.
ú Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.
ú
…..Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk,”Baik kepada seorang-seorang aku
bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga
orang mereka itu.
ü Si Bungkuk : setia pada istrinya, suka mengalah, mudah percaya.
ú Maka kata orang tua itu, “Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba.
ú
Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan
dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk
laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, “Tuan hamba seberangkan apalah
2) hamba kedua ini.
ú Maka kata
orang tua itu kepada istrinya, “Pergilah diri dahulu.” Setelah itu maka
turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu.
ü Si Panjang / Bedawi : licik, egois.
ú
Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta
dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun
sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!
ú
Maka kata Bedawi itu, “Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba;
lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini
tentulah suaminya.
ü Istri Si Bungkuk : mudah dirayu, tidak setia, suka berbohong, egois.
ú hamba jadikan istri hamba.” Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.Maka kata perempuan itu kepadanya, “Baiklah.
ú ….maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, “Si Panjang itulah suami hamba.
· Setting :
ü tempat :
ú tepi sungai : Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya.
ú Sungai : turunlah perempuanitu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu
ü Suasana :
ú menegangkan: Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga.
ú
Mengecewakan: “Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah
aku mati.Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu.
ú Membingungkan: Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah.
ü Waktu : tidak diketahui
· Alur : Alur maju
ü Eksposisi :
Mashudulhakk
arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit maka
berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka
bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah
dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai.
ü Complication :
….serta
dilihatnyaperempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun
sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!
ü Rising action :
Maka
sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada
perempuan itu, “Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya.
Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan
hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit,
hamba jadikan istri hamba.”
ü Turning point :
Maka
orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu
maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun
datanglah dengan perempuan itu. Masyhudulhakk, “Baik kepada
seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa
benar di dalam tiga orang mereka itu.
ü Ending :
Masyhudulhakk
dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan
kebenaran orang tua itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya.
Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan
Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali.
· Poin of View :
ü orang ke-3 :
Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.
· Amanat :
ü Jangan berbohong karena berbohong itu tidak baik, merupakan dosa, dan hanya akan menimbulkan kerugian pada diri kita sendiri
ü Bantulah dengan ikhlas orang yang membutuhkan bantuan
ü Syukurilah jodoh yang telah diberikan Tuhan, yakini bahwa jodoh itu baik untuk kita
ü Jangan mengambil keputusan sesaat yang belum dipikirkan dampaknya
ü Jadilah orang yang bijaksana dalam mengatasi suatu masalah
Unsur ekstrinsik :
·
Nilai religiusitas : kita harus selalu bersyukur atas apa yang
telah diberikan oleh Allah. Jangan pernah merasa iri dengan apa yang
tidak kita miliki karena apa yang te;ah diberikan Allah kepada kita
adalah sesuatu yang memang terbaik untuk kita. Janagn seperti yang ada
pada hikayat mashudulhakk.
· Nilai moral :
Janganlah
sekali-kali kita memutar balikkan fakta, mengatakan bahwa yang salah
itu benar dansebaliknya, karena bagaimanapun juga kebenaran akan
mengalahkan ketidak benaran.
· Nilai social budaya :
Sebuah
kesalahan pastilah akan mendapat sebuah balasan, pada hikayat ini
diterangkan bahwa seorang yang melakukan keslahan seperti berbohong maka
akan did era sebanyak seratus kali. (Lalu didera oleh Masyhudulhakk
akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali.)
· Kepengarangan :
Hikayat
mashudulhakk ini dari salah satu naskah lama (Collectie v.d. Wall)
dengan diubah di sana-sini setelah dibandingkan dengan buku yang
diterbitkan oleh A.F. v.d. Wall (menurut naskah yang lain dalam kumpulan
yang tersebut).Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) isi
naskah yang dipakai v.d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat
pula, dengan alamat “Masyudhak”.. Dinantinya.
================================================================================================================================================
2. “IBNU HASAN”
Syahdan,
zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan, bernama Syekh Hasan,
banyak harta banyak uang, terkenal kesetiap negeri, merupakan orang
terkaya, bertempat tinggal du negeri Bagdad, yang terkenal kemana-mana,
sebagai kota yang paling ramai saat itu.
Syekh
Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang
kekurangan, menasehati yang berikiran sempit, mengingatkan orang yang
bodoh, diajari ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya,
berupa pakaian atau uang, karena itu banyak pengikutnya.
Syekh
Hasan saudagar yang kaya raya, memiliki seorang anak, laki-laki yang
sangat tampan, pendiam, dan baik budi, berusia sekitar tujuh tahun. Ibnu
Hasan namanya.
Ibnu Hasan sedang
lucu-lucuya, semua orang senang melihatnya, apalagi orang tuanya, namun
demikian anak itu, tidak sombong, perilakunya kalem, walaupun hidupnya
dimanjakan, tidak kekurangan sandang, namun Ibnu Hasan sama suka
bersolek, karena itulah kedua orang tuanya sangat menyayanginya.
Ayahnya
berfikir,”Alangkah salahnya aku, menyayangi diluar batas, tanpa
pertimbangan, bagaimana kalau akhirnya, dimirkai Allah Yang Agung, aku
pasti durhaka, tak dapat mendidik anak, mengkaji ilmu yang bermanfaat.”
Dipanggilnya
putranya. Anak itu segera mendatanginya, diusap-usapnya putranya sambil
dinasihati, bahwa Ia harus mengaji, katanya “Sekarang saatnya anakku,
sebenarnya aku kuatir, tapi, pergilah ke Mesir, carilah jalan menuju
keutamaan.”
Ibnu Hasan menjawab,”Ayah
jangan ragu-ragu, jangankan jalan menuju kemuliaan, jalan kematianpun
hamba jalani, semua kehendak orang tua, akan hamba turuti, tidak akan ku
tolak, siang malam hanya perintah Ayah Ibu yang hamba nantikan.”
Singkat
cerita, Ibnu Hasan yang akan berangkat kepesantren, berpisah dengan
kedua orangtuanya, hatinya sangat sedih, ibunya tidak tahan menangis
terisak-isak, harus berpisah dengan putranya, yang masih sangat kecil,
belum cukup usia.
“Kelak, apabila
ananda sudah sampai, ketempat merantau, pandai-pandailah menjaga diri,
karena jauh dari orang tua, harus tahu ilmunya hidup, jangan keras
kepala, angkuh dan menyombongkan diri, merasa lebih dari yang lain,
merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. Kalau begitu perbuatanmu,
hidupmu tidak akan senangkaena dimusuhi semua orang, tidak akan ada yang
mau menolong, kalau celaka tidak akan diperhatikan, berada dirantau
orang, kalau judes akan mendapatkan kesusahan, hati-hatilah menjaga diri
jangan menganggap enteng segala hal.”
Ibnu
Hasan menjawab dengan takzim,”Apa yang Ibu katakan, akan selalu kuingat
dan kucatat dalam hati, doakanah aku agar selamat, semoga jangan sampai
menempuh jalan yang salah, pesan Ibu akan kuperhatikan, siang dan
malam.”
Singkat cerita Ibnu Hasan
sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan
Mairun,mereka berangkat berjalan kaki, Mairun memikul semua perbekalan
dan pakaian, sementara Mairin mengikuti dari belakang, sesekali
menggantikan tugas Mairun.
Perasaan
sedih prihatin, kehujanan, kepanasan, selama perjalanan yang makan waktu
berhari-hari namun akhirnya sampai juga dipusat kota Negara Mesir,
dengan selamat berkat do’a Ayah dan Ibunda, selanjutnya, segera Ian
menemui seorang alim ulama, terus berguru padanya.
Pada
suatu hari, saatba’da zuhur, Ibnu Hasan sedang di jalan, bertemu
seseorang bernama Saleh, yang baru pulang dari sekalah, Ibnu Hasan
menyapa,”Anda pulang dari mana?”
Saleh
menjawab dengan sopan,”Saya pulang sekolah.” Ibnu Hasan bertanya lagi,”
Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!” yang ditanya menjawab,”Apakah
anda belum tahu?”
“sekolah itu tempat
ilmu, tepatnya tempat belajar, berhitung, menulis, mengeja, belajar
tatakrama, sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda, dan
terhadap sesama, harus sesuai dengan aturan.”
Begitu
Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, betapa girang hatinya, di
segera pulang, menghadap kyai dan meminta izinya, untuk belajar
disekolah, guna mencari ilmu. Sekarang katakan padaku apa yang
sebenarnya kamu harapkan.”
Kyai
berkata demikian, tujuan untuk menguji muridnya, apakah betul-betul
ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian.
Ibnu Hasan menunduk, menjawab agak malu,”Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba besusah payah tanpa mengenal lelah, mencari ilmu.
Memang
sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya, tidak kekurangan uang,
ternaknyapun banyak, hamba tidak usah bekerja, karena tidak akan
kekurangan.
Namun, pendapat hamba
tidak demikian, akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada, sudah
menunggal dunia, semua hartanya jatuh ketangan hamba.
Tapi,
ternyata tidak terurus karena saya tidak teliti akhirnya harta itu
habis, bukan bertambah. Distulah terlihat ternyata kalau hamba ini
bodoh.
Bukan bertambah mashur,
asalnya anak orang kaya, harus menjadi buruh. Begitulah pendapat saya
karena modal sudah ada saya hanya tinggal melanjutkan.
Pangkat
anakpun begitu pula, walaupun tidak melebihiorang tua, paling tidak
harus sama dengan orang tua, dan tidak akan melakukan, apalagi kalau
lebih miskin, ibaratnya anak seorang patih.”
Maka, yakinlah kyai itu akan bauk muridnya.
UNSUR INSTRINSIK
Ø Tema : Bakti seorang anak terhadap orang tuanya
Ø Tokoh :
o Ibnu Hasan
o Syekh Hasan
o Ibu Ibnu Hasan
o Mairin
o Mairun
o Saleh
o Kyai guru
5. Nilai Pendidikan
Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.
Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.
================================================================================================================================================
asal
nama, asal usul, bakti anak, bunga, cerita anak, Cerita Rakyat, iri
hati, jahat, kecantikan, kejam, kerajaan, pemalas, saudara 47
Dahulu
kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang
cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia
terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk
mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan
anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang
pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka
bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah
mereka. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka.
Kesepuluh
puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri
Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau,
Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning,
Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu,
sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun
kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda,
ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan
tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka berpergian dengan inang
pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.
Pada
suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua
puteri-puterinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang
kalian inginkan?” tanya raja.
“Aku ingin perhiasan yang mahal,” kata Puteri Jambon.
“Aku
mau kain sutra yang berkilau-kilau,” kata Puteri Jingga. 9 anak raja
meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya
dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan
ayahnya.
“Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,” katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya.
“Anakku,
sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat
dan kubawakan hadiah indah buatmu,” kata sang raja. Tak lama
kemudian, raja pun pergi.
Selama
sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering
membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka.
Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak
sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya
karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri
Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering
dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon
dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun
Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya. Kakak-kakak Puteri Kuning
yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. “Lihat tampaknya kita
punya pelayan baru,” kata seorang diantaranya.
“Hai
pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil
melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan.
Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut
terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia
bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai
perintah kakak-kakaknya.
“Kalian
ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa
untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!” Kata Puteri Kuning dengan
marah.
“Sudah
ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila. Mereka
meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap
hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana,
kesembilan puterinya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning
sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi
sangat sedih.
Anakku
yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain
kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang
raja. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai
negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya.
“Sudahlah
Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan
bajuku yang berwarna kuning,” kata Puteri Kuning dengan lemah lembut.
“Yang
penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah,”
ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya
berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak
ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya.
Keesokan
hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. “Wahai
adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku,
karena aku adalah Puteri Hijau!” katanya dengan perasaan iri.
“Ayah
memberikannya padaku, bukan kepadamu,” sahut Puteri Kuning.
Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari
saudara-saudaranya dan menghasut mereka.
“Kalung
itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus
mengajarnya berbuat baik!” kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk
merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul.
Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan
tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal.
“Astaga!
Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai
mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau
ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.
Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu
pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. “Hai
para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!” teriaknya.
Tentu
saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu,
berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih.
“Aku ini ayah yang buruk,” katanya.” Biarlah anak-anakku kukirim ke
tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!” Maka ia pun
mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja
sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri
Kuning yang hilang tak berbekas.
Suatu
hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja
heran melihatnya. “Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri,
daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih
kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri
Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!” kata raja dengan senang.
Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga
kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai
untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat
orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan
kebaikan.
================================================================================================================================================
Nun,di
sebuah hutan belantara tumbuhlah sebatang pohon yang memiliki keunikan
tersendiri dibandingkan dengan jutaan pohon yang lainnya. Ia memiliki
batang yang sangat lurus dan tegak, akarnya yang kukuh, serta aroma
khasnya yang harum, semerbak, memenuhi seluruh isi hutan. Sehingga
tidaklah menjadi hairan, ramai sekali para pencari kayu bakar yang
merasa tertarik kepada pohon itu. Bahkan ramai yang berniat baik untuk
turut memelihara keindahan pohon itu. Dengan senang hati mereka
membiarkan pohon tersebut tetap tumbuh.
Sering
kali mereka menyempatkan diri untuk menyiraminya dengan air yang
diperoleh dari lubuk bening di pinggir hutan. Semua itu mereka lakukan
dengan penuh harap agar suatu saat kelak, di alam yang mulai penuh
dengan kerosakkan ini, Sang Pohon Cantik akan tumbuh dengan sejuta
pesona. Memberikan warna perubahan bagi siapa saja, untuk lebih
mencintai lingkungan mereka dan berhenti membuat kerosakan.
Sementara
bagi para penebang pohon yang liar, keberadaan pohon cantik itu
sangatlah mengganggu. Mereka sedar, apabila pohon tersebut tumbuh dengan
baik, maka akan banyak perhatian yang akan tertuju kepada hutan itu.
Perhatian yang tentu saja membuat langkah mereka semakin sulit dalam
membuat kerosakan di dalam hutan itu. Para penebang pohon yang liar itu
berikrar, mereka akan memindahkan pohon cantik itu ke halaman
rumah-rumah mereka. Tetapi kalau tujuan itu tidak tercapai, maka
mematikan pohon itu adalah cara terbaik yang harus mereka tempuh.
Beruntung,
pohon cantik tersebut mendapat penjagaan yang sangat rapi dari para
pencari kayu bakar yang baik hati. Mereka secara bergiliran mengiring
berjalan dengan sangat waspada agar pertumbuhan Sang Pohon terjaga .
Selain itu, pohon tersebut rupanya memiliki akar yang dapat menumbuh
dengan cepat. Sehingga sari-sari makanan yang ada dalam tanah dapat
diserap dengan baik. Demikian juga dengan air yang ada, dapat digunakan
oleh Sang Pohon untuk menampung kehidupannya.
Dipendekkan
cerita,pohon tersebut telah tumbuh besar, daunnya yang rimbun menghijau
membuat mata tak lelah untuk memandang, dari dahan-dahannya lahir
wangian semerbak harum yang menyeliputi seluruh hutan, dan satu lagi,
pohon cantik tersebut memiliki buah yang sangat manis. Selain dapat
menghilangkan dahaga, juga dapat mengenyangkan para penikmatnya.
Terasalah berkah Sang Pencipta bagi para pencari kayu bakar, meskipun
para penebang pohon yang liar masih saja mencari helah untuk selalu
menghapuskan pohon itu.
Namun,
demikianlah kudrat keberadaan setiap makhluk yang hidup dan tumbuh di
atas muka bumi ini, tak satupun yang abadi! Tak terkecuali dengan
keadaan pohon cantik yang disanjung para pencari kayu bakar dan seluruh
penghuni hutan. Pada suatu petang, ketika langit mulai gelap, angin pun
kencang berhembus. Pucuk pohon cantik bergoyang dengan hebatnya. Ia
sekuat tenaga mengimbangi keadaan yang mana pada bila-bila masa boleh
menumbangkannya. Sang Pucuk terus bergerak, awalnya hanya berniat untuk
mempertahankan diri dari keadaan alam yang ia hadapi.
Tetapi
lama-kelamaan ia sedar, bahwa sebenarnya ia dapat mengatasi sepenuhnya
serangan angin tersebut. Ia yakin benar telah ditampung oleh akar yang
kuat, dan dahan-dahan yang kukuh, serta dedaunan yang dapat menahan laju
dan kencangnya angin dengan sempurna. Kerana keyakinannya itulah
tiba-tiba ia membuat sebuah gerakan yang tidak disangka-sangka oleh Sang
Akar, yang sekuat tenaga mencengkam tanah.
Sang
Pucuk menari, bukan hanya mengikut arah angin, namun terkadang ia
membuat gerakan yang membingungkan Sang Akar dalam mempertahankan
keseimbangannya. Dan, Sang Akar pun mengeluarkan bantahannya; “Hai,
pucuk. Berhentilah menari! Aku bingung melihatmu!” “Kenapa mesti
bingung, Akar? Aku tahu benar situasi yang ada. Ikut sajalah!”
“Bagaimana aku hendak mengikuti tarianmu, kalau kamu susah diikuti”
“Percayalah, akar. Aku diatas mampu melihat semuanya. Bukan hanya
batang, daun, dan kau akarku sendiri. Tetapi jarak puluhan batu di
sekeliling kita pun dapat aku lihat dengan jelas” “Hai, apa salahnya aku
mengingatkanmu, pucuk?” “Kau salah akar, harusnya kau ikut saja apa
kataku. Kerana posisimu di bawah, dan kau tidak tahu apa-apa tentang
dunia ini!”
“Aduhai…angkuh
nian kau, pucuk! Kalaulah tak ada aku, mana mungkin kau dapat berdiri
dan berada di atas sana!” “Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar,
hah?!” Sang Daun menegahi suasana yang semakin panas. “Kerana dia mulai
merasa angkuh, daun!” akar mengarahkan serabut akarnya kepada Sang
Pucuk. “Apa urusanmu, akar?! Ikuti sajalah kataku, dan kau akan selamat”
“Apakah kalian lupa, hah? Kalian itu saling memerlukan! Tidak akan ada
kehidupan kalau tidak aku, kau, dan si akar itu. Sedarlah, saudaraku!
kawanku!” Sang Daun kembali berkata-kata dengan perasaan yang sedih
kerana pertelingkahan saudaranya sendiri.
Perdebatan
demi perdebatan terus bergulir di antara keduanya. Sang Pucuk tidak
merasa harus mengalah sedikit pun terhadap Sang Akar. Ia merasa bahawa
ialah segalanya, dialah ketua kerana berada di tempat yang paling atas.
Ia merasa ditakdirkan Tuhan untuk berada di atas dengan segala
penglihatannya yang luas akan dunia ini. Ia merasa Tuhan telah
memberikan kekuasaan mutlak kepadanya untuk berbuat sesuka hati.
Sementara, Sang Akar merasa kecewa, Sang Pucuk telah mengambil langkah
yang keliru dalam melaksanakan upaya menjaga kelangsungan hidup seluruh
bagian pohon tersebut. Dan, Sang Daun yang berusaha meleraikan
perdebatan itu pun tak berdaya menenangkan keduanya, meski ia tak pernah
merasa lelah untuk mendamaikan perseteruan dua saudara satu tubuh itu.
Waktu
yang digariskan mungkin saja telah tiba, kerana perdebatan yang
berlarutan itu, Sang Akar bermalas-malasan untuk menyerap air dan
zat-zat yang dibutuhkannya. Demikian juga Sang Daun, kerana kelelahan
melerai perdebatan kedua saudaranya, ia lupa untuk mengolah makanan
meskipun matahari terus bersinar sepanjang hari. Dan, Sang Pucuk rupanya
semakin terlena. Ia tidak menyadari dua saudara dibawahnya sudah
mengalami gangguan. Ia tetap berlenggok mengikuti arah angin dengan
irama yang menghiburkan hatinya. Hingga tibalah saat di mana angin
justeru berhembus dengan sangat perlahan.
Sang
Pucuk terlena kerana desirnya, ia merasa ngantuk dan ia biarkan
gerakannya yang tidak beraturan, dan ia pun mulai terpejam. Terlelap
dalam tidur yang tidak disedarinya, dan angin datang menyerang. Tubuhnya
terkulai. Sang Daun yang lapar tidak berdaya menahan tubuh Sang Pucuk
yang datang tiba-tiba. Ia ikut terjatuh. Sementara di bawah, Sang Akar
yang bermalas-malasan tidak lagi memiliki cengkaman yang kuat terhadap
tanah di sekelilingnya. Sang Akar tidak berkuasa menahan tubuh kedua
saudaranya yang terjatuh lebih dulu. Ia tercabut, bercerai-berai.
Beginilah
akhirnya kisah pohon cantik,sebuah cerita yang menyedihkan.Para pencari
kayu bakar yang baik hati bermuram durja, sementara para penebang liar
bergelak tawa, “Tak perlu kita robohkan, kawan. Mereka roboh sendiri
kerana permusuhan…!! ” “O, bahkan tak perlu angin yang kencang
rupanya…….kasihan betul…..” demikianlah kata penebang pohon yang liar.
Dari sini saudara-saudaraku dapatkah kita mengambil sedikit iktibar dari cerita ini?
Marilah kita jauhi permusuhan yang meleraikan silaturrahim antara kita,
janganlah berdendam kerana dendam itu tidak membawa kedamaian..
saling
hormat menghormati dan bersatu padulah kita agar syiar Islam dapat
diteruskan dan digemilangkan.. dan agar kita tetap menjadi orang yang
beriman..
InsyaAllah..
================================================================================================================================================
Syahdan,disuatu
masa hidup seorang laki2 yang punya sifat kikir (pelit).ia mempunyai
sebuah rumah yang cukup besar.didalam rumah itu dia tinggal bersama
seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil2.laki2 ini merasa
rumahnya sudah sangat sempit dengan keberadaannya dan
keluarganya.namun,untuk memperluas rumahnya,sang lelaki merasa sayang
untuk mengeluarkan uang.ia putar otak bagaimana caranya agar ia bisa
memperluas rumahnya tanpa mengeluarkan banyak.akhirnya,ia mendatangi
abunawas,seorang cerdik dikampungnya.pergilah ia menuju rumah abu nawas.
si lelaki : “salam hai abunawas,semoga engkau selamat sejahtera.”
abu nawas : “salam juga untukmu hai orang asing,ada apa gerangan kamu mendatangi kediamanku yang reot ini ?”
si
lelaki lalu menceritakan masalah yang ia hadapi.abunawas mendengar
dengan seksama.setelah si lelaki selesai bercerita,abunawas tampak
tepekur sesaat,tersenyum,lalu ia berkata :
“hai
fulan,jika kamu menghendaki kediaman yang lebih luas,belilah sepasang
ayam,jantan dan betina,lalu buatkan kandang didalam rumahmu.3 hari lagi
kau lapor padaku bagaimana keadaan rumahmu.”
si
lelaki bingung,apa hubungannya ayam dengan luas rumah,tapi ia tak
membantah.sepulang dari rumah abunawas,ia membeli sepasang ayam,lalu
membuatkan kandang untuk ayamnya didalam rumah.
3 hari kemudian,ia kembali kekediaman abunawas,dengan wajah berkerut.
abunawas : “bagaimana fulan,sudah bertambah luaskah kediamanmu?”
si
lelaki : “boro boro ya abu.apa kamu yakin idemu ini tidak salah?rumahku
tambah kacau dengan adanya kedua ekor ayam itu.mereka membuat keributan
dan kotorannya berbau tak sedap.”
abu
nawas : “( sambil tersenyum ) kalau begitu tambahkan sepasang bebek dan
buatkan kandang didalam rumahmu.lalu kembali 3 hari lagi.”
silelaki
terperanjat.kemarin ayam sekarang bebek,memangnya rumahnya
peternakan?.atau sicerdik abunawas ini sedang kumat jahilnya?namun
seperti pertama kali,ia tak berani membantah,karena ingat reputasi
abunawas yang selalu berhasil memecahkan berbagai masalah.pergilah ia ke
pasar,dibelinya sepasang bebek,lalu dibuatkannya kandang didalam
rumahnya.
setelah 3 hari ia kembali menemuai abunawas.
abu nawas : “bagaimana fulan,kediamanmu sedah mulai terasa luas atau belum ?”
si
lelaki : “aduh abu,ampun,jangan kau menegerjai aku.saat ini adalah saat
paling parah selama aku tinggal dirumah itu.rumahku sekarang sangat
mirip pasar unggas,sempit,padat,dan baunya bukan main.”
abunawas
: “waah,bagus kalau begitu.tambahkan seekor kambing lagi.buatkan ia
kandang didalam rumahmu juga.lalu kembali kesini 3 hari lagi.”
si lelaki : “apa kau sudah gila abu ?kemarin ayam,bebek dan sekarang kambing.apa tidak ada cara lain yang lebih normal?”
abunawas : “lakukan saja,jangan membantah.”
lelaki
itu tertunduk lesu,bagaimanapun juga yang memberi ide adalah
abunawas,sicerdik pandai yang tersohor.maka dengan pasrah pergilah ia ke
pasar dan membeli seekor kambing,lalu ia membuatkan kandang didalam
rumahnya.
3 hari kemudian dia kembali menemui abunawas
abunawas : “bagaimana fulan ? sudah membesarkah kediamanmu ?”
si
lelaki : “rumahku sekarang benar2 sudah jadi neraka.istriku mengomel
sepanjang hari,anak2 menangis, semua hewan2 berkotek dan
mengembik,bau,panas,sumpek,betul2 parah ya abu.tolong aku abu,jangan
suruh aku beli sapi dan mengandangkannya dirumahku,aku tak sanggup ya
abu.”
abu
nawas : “baiklah,kalau begitu,pulanglah kamu,lalu juallah kambingmu
kepasar,besok kau kembali untuk menceritakan keadaan rumahmu.”
si
lelaki pulang sambil bertanya2 dalam hatinya,kemarin disuruh
beli,sekarang disuruh jual,apa maunya si abunawas.namun,ia tetap menjual
kambingnya kepasar.keesokan harinya ia kembali kerumah abunawas.
abu nawas : “bagaimana kondisi rumahmu hari ini ?”
si lelaki :”yah,lumayan lah abu,paling tidak bau dari kambing dan suara embikannya yang berisik sudah tak kudengar lagi.”
abu nawas : “kalau begitu juallah bebek2mu hari ini,besok kau kembali kemari”
si lelaki pulang kerumahnya dan menjual bebek2nya kepasar.esok harinya ia kembali kerumah abunawas
abunawas : “jadi,bagaimana kondisi rumahmu hari ini?”
si
lelaki : “syukurlah abu,dengan perginya bebek2 itu,rumahku jadi jauh
lebih tenang dan tidak terlalu sumpek dan bau lagi.anak2ku juga sudah
mulai berhenti menangis.”
abunawas.bagus.”kini juallah ayam2mu kepasar dan kembali besok “
si lelaki pulang dan menjual ayam2nya kepasar.keesokan harinya ia kembali dengan wajah yang berseri2 kerumah abunawas
abunawas : “kulihat wajahmu cerah hai fulan,bagaimana kondisi rumahmu saat ini?”
si
lelaki :”alhamdulillah ya abu,sekarang rasanya rumahku sangat lega
karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada.kini istriku sudah tidak
marah2 lagi,anak2ku juga sudah tidak rewel.”
abunawas
: “(sambil tersenyum) nah nah,kau lihat kan,sekarang rumahmu sudah
menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas
tanah banguanmu.sesungguhnya rumahmu itu cukup luas,hanya hatimu sempit
sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu.mulai sekarang kau harus
lebih banyak bersyukur karena masih banyak orang yang rumahnya lebih
sempit darimu.sekarang pulanglah kamu,dan atur rumah tanggamu,dan
banyak2lah bersyukur atas apa yang dirizkikan tuhan padamu,dan jangan
banyak mengeluh.”
silelaki
pun termenung sadar atas segala kekeliruannya,ia terpana akan
kecendikiaan sang tokoh dan mengucap terima kasih pada abunawas…
================================================================================================================================================
Hikayat
Panglima Burung justru menjadi sangat mencuat tatkala terjadi kerusuhan
etnis tahun 2001 di Kalimantan Tengah. Saat itu Panglima Burung sebagai
tokok gaib Dayak benar-benar dijadikan sandaran dalam menghadapi
serangan etnis tertentu dari seberang. Apa boleh buat, sesuatu yang
telah dilupakan menjadi bangun ke alam nyata. Lalu siapa Panglima Burung
dan bagaimana latar belakang ketokohannya? Inilah sebagian kecil
jawabannya, jawaban dari versi Suku Dayak yang mendiami DAS Barito.
Kerusukan
etnis yang mulai pecah sejak 18 Pebruari 2001 di Sampit memaksa
Panglima Burung hadir dan membantu warga suku Dayak berperang dan
mengusir warga etnis Madura. Sebagai Panglima besar, tentu saja Panglima
Burung tidak turun sendiri tetapi membawa sejumlah pengawal alias
Pasukan Khusus. Kata Abdul Hadi Bondo Arsyad, seorang Temanggung Dayak
dari Tumbang Senamang, Katingan Hulu, “Panglima Burung muncul dengan
membawa 87 orang pasukan khususnya”. Kata Kiyai Haji M. Juhran Erpan
Ali, Ketua Pondok Pesantren Ushuluddin, Martapura, “Panglima Burung
(adalah) seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Selain
itu ia juga bergelar hajjah”
Disamping
Panglima Burung sebagai panglima tertinggi Dayak, rusuh Sampit juga
menurunkan beberapa tokoh legenda alam gaib lainnya seperti Panglima
Palai, Panglima Api, Panglima Angsa, Panglima Hujan Panas, Panglima
Angin dan beberapa panglima sakti lainnya. Yang pasti dari beberapa
panglima itu terdapat dua panglima wanita cantik yakni Panglima Burung
dan Panglima Api.
Dan
kembali kepada keberadaan Panglima Burung yang legendaris, kata Kiyai
Haji M. Juhran Erpan Ali (56), “Keberadaannya memang nyata, berwujud
seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Panglima Burung
sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk”. Namun begitu, yang
mengejutkan dari penuturan Kiyai Juhran ini adalah karena sosok
Panglima Perang Suku Dayak ini juga beragama Islam dan menyandang titel
seorang hajjah.
WA
Samat dan Adonis Samat bertutur bahwa pahlawan cantik tersebut
keberaniannya luar biasa sekali. Salah satunya adalah saat berperang
mendampingi Gusti (Ratu) Zaleha dalam Perang Barito. “Amuk Barito itu
terjadi pada tahun 1900-1901, dimana suku-suku Dayak Dusun, Ngaju,
Kayan, Kinyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu Sungai, baik yang beragama
Islam atau pun Kaharingan bersatu bahu membahu menghadapi serangan
Belanda. Nama-nama pahlawan Banjar seperti Pangeran Antasari Gusti
Muhammad Seman dan Gusti Ratu Zaleha selalu bersanding bahu membahu
dengan (para pahlawan Dayak seperti) Temanggung Surapati, Antung, Kuing,
Temanggung Mangkusari dan lain-lain yang merupakan kesatuan kekuatan
dalam perjuangan”.
Dalam
rentang perjuangannya melawan kolonialisme Belanda, Panglima Burung
yang sangat cantik ini memiliki beberapa panggilan akrab oleh
masyarakat. “Ada yang menyebutnya “Ilum” atau “Itak” namun nama
populernya adalah “Bulan Jihad”. Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama
Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya.
Dan
kita ketahui bahwa Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman,
putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki
kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan dengan semboyannya (yang
terkenal): “Haram Manyarah, Waja Sampai ka Puting”.
Tjilik
Riwut membenarkan keberadaan srikandi Dayak itu tetapi menurut beliau
Bulan Jihad (bukan asli Dayak Kalteng tetapi) berasal dari Suku Dayak
Kinyah (Kaltim). Yang pasti, “nama Bulan Jihad sangat terkenal diantero
Barito Hulu dan Barito Selatan”, imbuh Tjilik Riwut. “Dia pendekar sakti
mandraguna, punya ilmu kebal tahan senjata, bisa menghilang dan (mampu)
melibas lawan hanya dengan selendang saja. Dia selalu berjuang
berdampingan dengan Gusti Zaleha si pejuang puteri Banjar”. Dengan
demikian maka ceritera yang disampaikan oleh WA Samat dan Adonis Samat
(1948) sejalan dengan ceritera Pak Tjilik Riwut (1950).
Tatkala
tokoh perlawanan Gusti Muhammad Seman meninggal dunia pada tahun 1905,
lalu awal tahun 1906 Gusti Zaleha berkeputusan turun gunung, lantas apa
keputusan Bulan Jihad dan sisa prajurit lainnya? Ternyata Bulan Jihad
tetap bertekad meneruskan perjuangan dan terus mengembara. Maka
terjadilah perpisahan yang sangat memilukan. Dengan berat hati keluarlah
Gusti Zaleha dari hutan menuju Muara Teweh dan selanjutnya dia dibawa
ke Banjarmasin bersama ibunya Nyai Salmah.
Sejak
perpisahan itu, tidak banyak orang yang tahu dimana keberadaan Bulan
Jihad dan kelanjutan perjuangannya. Barulah pada tanggal 11 Januari
1954, Bulan Jihad datang melaporkan diri ke Kantor Pemerintahan setempat
di Muara Joloi sehingga saat itulah dia baru mengetahui kalau Indonesia
sudah merdeka. Hatinya pun semakin luluh begitu mengetahui sahabat
karibnya Ratu Zaleha telah lama meninggal dunia (24 September 1953) di
Banjarmasin. Hari itu orang kembali melihat pemunculannya dan hari itu
pula dia kembali mengembara ke hutan rimba untuk selama-lamanya. Inilah
sekilas kisah muslimah Bulan Jihad yang setia berperang mendampingi
perjuangan Gusti Puteri Zaleha (1903-1906), bahkan dia terus berjuang
melewati masa juang pahlawan anti kolonialis lainnya di tanah Dayak ini.
Dari
bukti sejarah yang ditunjukkan pendahulu kita menyatakan fakta bahwa
kebulatan tekad persatuan, tekad perjuangan melawan penjajahan tertuang
jelas di dalam Perang Banjar dan Perang Barito. Saat itu, Pangeran
Antasari, Demang Leman, Gusti Muhammad Seman, Temanggung Surapati, Gusti
Zaleha, Bulan Jihad, Panglima Batur, Temanggung Mangkusari, Panglima
Wangkang dan lainnya, adalah gambaran bersatunya kesatuan suku-suku
Dayak Ngaju, Dayak Dusun, Kayan, Kenyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu
Sungai, baik yang beragama Islam maupun Kaharingan. Kata Kiyai Juhran
Erpan Ali, “(Sejak) masa itu telah ada kesepakatan tekad bahwa suku
Dayak dan suku Banjar tidak akan pernah berperang sesamanya sampai kapan
pun juga”.
================================================================================================================================================
Sejak
peristiwa penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang
dilegalisir oleh Baginda, sejak saat itu pula Baginda ingin menangkap
Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.
Sudah
menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah
Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman. Baginda
tahu Abu Nawas amat takut kepada beruang. Suatu hari Baginda
memerintahkan prajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan
rombongan Baginda Raja Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa
takut dan gemetar tetapi ia tidak berani menolak perintah Baginda.
Dalam
perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubah menjadi
mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas
mendekati Baginda.
“Tahukah mengapa engkau aku panggil?” tanya Bagla tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
“Ampun Tuanku, hamba belum tahu.” kata Abu Nawas
“Kau
pasti tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan Hutan masih jauh dari
sini. Kau kuberi kuda yang lambat Sedangkan aku dan pengawal-pengawalku
akan menunggang kuda yang cepat. Nanti pada waktu santap siang kita
berkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harus
menghindarinya dengan cara kita masing masing agar pakaian kita tetap
kering. Sekarang kita berpencar.” Baginda menjelaskan.
Kemudian
Baginda dan rombongan mulai bergerak.Abu Nawas kini tahu Baginda akan
menjebaknya, la harus mancari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang
berpikir, tiba
tiba hujan turun
Baginda
dan rombongan secepat memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan
yang terdekat. Tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para
pengawalnya basah kuyup. Ketika santap siang tiba Baginda segera menuju
tempat peristirahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya
kering,Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lambat Baginda dan
para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah. Padahal
dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat berlindung
yang paling dekat.
Pada
hari kedua Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi
Baginda Raja. Kini Baginda dan para pengawal-pengawalnya mengendarai
kuda-kuda yang lamban. Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan
berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Malah hari ini lebih deras
daripada kemarin. Baginda dan pengawalnya langsung basah kuyup karena
kuda yang ditunggangi tidak bisa berlari dengan kencang
Ketika
saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tiba tempat peristirahatan lebih
dahulu dari Baginda dan pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja.
Selang beberapa saat Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian
yang basah kuyup. Melihat Abu Nawas dengan pakaian yang tetap kering
Baginda jadi penasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan
yang selama ini disembunyikan.
“Terus terang begaimana caranya menghindari hujan , wahai Abu Nawas.” tanya Baginda.
“Mudah Tuanku yang mulia.” kata Abu Nawas sambil tersenyum.
“Sedangkan’
aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempat berteduh
terdekat, apalagi dengan kudamu yang lamban ini.” kata Baginda.
“Hamba
sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan.Tetapi begitu hujan turun
hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya, lalu
mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti.” Diam-diam
Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.
================================================================================================================================================
Karena
dianggap hampir membunuh Baginda maka Abu Nawas mendapat celaka. Dengan
kekuasaan yang absolut Baginda memerintahkan prajurit-prajuritnya
langsung menangkap dan menyeret Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.
Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim tanam kentang
akan tiba. Ketika para prajurit kerajaan tiba, ia sedang mencangkul.
Dan
tanpa alasan yang jelas mereka langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan
titah Baginda. Abu Nawas tidak berkutik. Kini ia mendekam di dalam
penjara. Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam. Sedangkan
istrinya tidak cukup kuat untuk melakukan pencangkulan. Abu Nawas tahu
bahwa tetangga-tetangganya tidak akan bersedia membantu istrinya sebab
mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Tidak
ada yang bisa dilakukan di dalam penjara kecuali mencari jalan keluar.
Seperti biasa Abu Nawas tidak bisa tidur dan tidak enak makan. Ia hanya
makan sedikit. Sudah dua hari ia meringkuk di dalam penjara. Wajahnya
murung. Hari ketiga Abu Nawas memanggil seorang pengawal. “Bisakah aku
minta tolong kepadamu?” kata Abu Nawas membuka pembicaraan.
“Apa itu?” kata pengawal itu tanpa gairah.
“Aku
ingin pinjam pensil dan selembar kertas. Aku ingin menulis surat untuk
istriku. Aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting yang hanya boleh
diketahui oleh istriku saja.”
Pengawal
itu berpikir sejenak lalu pergi meninggalkan Abu Nawas. Ternyata
pengawal itu menghadap Baginda Raja untuk melapor. Mendengar laporan
dari pengawal, Baginda segera menyediakan apa yang diminta Abu Nawas.
Dalam hati, Baginda bergumam mungkin kali ini ia bisa mengalahkan Abu
Nawas. Abu Nawas menulis surat yang berbunyi:
“Wahai
istriku, janganlah engkau sekali-kali menggali ladang kita karena aku
menyembunyikan harta karun dan senjata di situ. Dan tolong jangan
bercerita kepada siapa pun.”
Tentu
saja surat itu dibaca oleh Baginda karena beliau ingin tahu apa
sebenamya rahasia Abu Nawas. Setelah membaca surat itu Baginda merasa
puas dan langsung memerintahkan beberapa pekerja istana untuk menggali
ladang Abu Nawas. Dengan peralatan yang dibutuhkan mereka berangkat dan
langsung menggali ladang Abu Nawas. Istri Abu Nawas merasa heran.
Mungkinkah suaminya minta tolong pada mereka? Pertanyaan itu tidak
terjawab karena mereka kembali ke istana tanpa pamit. Mereka hanya
menyerahkan surat Abu Nawas kepadanya.
Lima
hari kemudian Abu Nawas menerima surat dari istrinya. Surat itu
berbunyi: “Mungkin suratmu dibaca sebelum diserahkan kepadaku. Karena
beberapa pekerja istana datang ke sini dua hari yang lalu, mereka
menggali seluruh ladang kita. Lalu apa yang harus kukerjakan sekarang?”
Rupanya
istrinya Abu Nawas belum mengerti muslihat suaminya. Tetapi dengan
bijaksana Abu Nawas membalas: “Sekarang engkau bisa menanam kentang di
ladang tanpa harus menggali, wahai istriku.” Kali ini Baginda tidak
bersedia membaca surat Abu Nawas lagi. Baginda makin mengakui
keluarbiasaan akal Abu Nawas. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas
masih bisa melakukan pencangkulan.
================================================================================================================================================
Kadangkala
untuk menunjukkan sesuatu kepada sang Raja, Abu Nawas tidak bisa hanya
sekedar melaporkannya secara lisan. Raja harus mengetahuinya dengan mata
kepala sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidup
sengsara. Ada saja praktek jual beli budak.
Dengan
tekad yang amat bulat Abu Nawas merencanakan menjual Baginda Raja.
Karena menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang paling patut untuk
dijual. Bukankah selama ini Baginda Raja selalu mempermainkan dirinya
dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnyalah kalau sekarang
giliran
Abu Nawas mengerjai Baginda Raja.
Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al Rasyid.
“Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada Paduka yang mulia.”
“Apa itu wahai Abu Nawas?” tanya Baginda langsung tertarik.
“Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas meyakinkan.
“Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya.” kata Baginda Raja tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Tetapi Baginda … ” kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tetapi apa?” tanya Baginda tidak sabar.
“Bila
Baginda tidak menyamar sebagai rakyat biasa maka pasti nanti
orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu.” kata Abu
Nawas.
Karena begitu besar
keingintahuan Baginda Raja, maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat
biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas.
Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al Rasyid berangkat menuju ke sebuah hutan.
Setibanya
di hutan Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon yang
rindang dan memohon Baginda Raja menunggu di situ. Sementara itu Abu
Nawas menemui seorang badui yang pekerjaannya menjuai budak. Abu Nawas
mengajak pedagang budak itu untuk melihat calon budak yang akan dijual
kepadanya dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan bahwa
sebenarnya calon budak itu adalah teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas
tidak tega menjualnya di depan mata. Setelah pedagang budak itu
memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan
surat kuasa yang
menyatakan bahwa
pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang
duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitu menerima
beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu.
Baginda
Raja masih menunggu Abu Nawas di situ ketika pedagang budak
menghampirinya. la belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga menampakkan
batang hidungnya. Baginda juga merasa heran mengapa ada orang lain di
situ.
“Siapa engkau?” tanya Baginda Raja kepada pedagang budak.
“Aku adalah tuanmu sekarang.” kata pedagang budak itu agak kasar.
Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyid dalam pakaian yang amat sederhana.
“Apa maksud perkataanmu tadi?” tanya Baginda Raja dengan wajah merah padam.
“Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya.” kata pedagang budak dengan kasar.
“Abu Nawas menjual diriku kepadamu?” kata Baginda makin murka.
“Ya!” bentak pedagang budak.
“Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?” tanya Baginda geram.
“Tidak
dan itu tidak perlu.” kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret
budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang
dan diperintahkan untuk membelah kayu.
Begitu
banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu sehingga memandangnya
saja Sultan Harun Al Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harus
mengerjakannya.
“Ayo kerjakan!”
Sultan
Harun Al Rasyid mencoba memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun si
badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasa aneh.
“Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali !”
Sultan
Harun Al Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam
terarah ke kayu. la mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya
terasa aneh dan kaku bagi si badui.
“Oh,
beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja
keras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga.” gumam Sultan
Harun Al Rasyid.
Si
badui menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan
lama-lama menjadi marah. la merasa rugi barusan membeli budak yang
bodoh.
“Hai badui! Cukup semua ini aku tak tahan.”
“Kurang
ajar kau budakku harus patuh kepadaku!” kata badui itu sembari memukul
baginda. Tentu saja raja yang tak pernah disentuh orang, ia menjerit
keras saat dipukul kayu.
“Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid.” kata Baginda sambil menunjukkan tanda kerajaannya.
Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja.
la
pun langsung menjatuhkan diri sembari menyembah Baginda Raja. Baginda
Raja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi
kepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin rasanya beliau
meremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur.
================================================================================================================================================
Nyamannya
suasana rimba di pagi hari. Mergastua bergembira menikmati keindahan
alam semula jadi. Di alam inilah tinggalnya sang kancil yang bijaksana
dengan sahabat karibnya kura-kura. Mereka hidup rukun damai, bebas
bergembira, tolong-menolong dan bekerjasama di taman peliharaan mereka.
Kelihatan
seekor monyet berdekatan kawasan taman peliharaan sang kancil dan
kura-kura. Sungguh lincah si monyet, bergayutan ke sana ke mari. Megah
dengan kebolehannya. Awas, monyet! jangan ganggu ketenteraman penghuni
yang lain.
Tiba-tiba
monyet berhenti bergayut dan memerhatikan sesuatu, apa pula yang
dilihatnya? “Ranumnya buah-buahan di sini. siapa punya agaknya?” kata
monyet. “Oh, rupanya sang kancil dan kura-kura.” Balas monyet sendiri
selepas melihat sang kancil dan kura-kura yang ada di situ. Begitu rajin
mereka bekerja. bukan seperti engkau monyet.
Lantas
itu, monyet bergerak ke arah sang kancil dan kura-kura sambil memegang
perutnya. eh, ini mesti ada apa-apakan monyet? “Tolong, tolong! dah
empat hari aku tak makan. Tolonglah, berikan aku sedikit makanan.
kasihanlah aku.” Monyet berpura-pura sakit di depan dua sahabat baik
itu. Sang kancil dan kura-kura saling berpandangan, lalu sang kancil
berkata, “kesiannya, empat hari tak makan. Baiklah monyet. Ambil sajalah
apa yang engkau nak dari taman kami. Makanlah sepuas hati engkau
monyet.” Sang kancil yang begitu prihatin dengan kesakitan yang dihadapi
monyet menghulurkan bantuan. “Terima kasih kancil, terima kasih
kura-kura.” Ujar monyet setelah berjaya memperdaya sang kancil dan
kura-kura.
“Aku
nak itu, aku nak itu!” pinta monyet dalam nada mendesak, sambil jarinya
menuding ke arah pokok cili yang nampak menarik itu. “Eh, tak boleh
monyet. kita tak boleh makan buah tu.” larang sang kancil sambil dibantu
kura-kura di sebelahnya. “Aku tak peduli, aku tak peduli, aku nak
juga.” Monyet yang tamak dan degil itu masih berkeras mahu mengambil
cili itu untuk dimakannya. “Jangan monyet, jangan!” belum pun sempat
kancil menghabiskan ayatnya, monyet telah mengambil cili itu lalu
memakannya beberapa batang sekali gus. Apa lagi, terasa berapi dan merah
muka monyet akibat kepedasan yang melampau. “Ha, rasakan engkau monyet.
Beginilah jadinya mereka yang tidak menerima nasihat orang.” Ujar
kura-kura yang geram melihat kedegilan monyet.
Selang
beberapa hari kemudian, sang kancil dan kura-kura bersiar-siar di taman
peliharaan mereka. “Apa khabar pula dengan si monyet?” bicara sang
kancil kepada kura-kura. “Kasihan, ingat-ingat monyet. jangan diulang
lagi.” Kata kura-kura yang terlihatkan monyet yang masih berada di situ.
Pengajaran:
1. Jangan tamak
2. Mendengar nasihat orang lain
3. Jangan berdendam
================================================================================================================================================
Pada
suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka
berjalan menelusuri hutan rimba belantara namun tak juga mendapat kabar
keberadaan Sita Dewi.
Saat
Sri Rama dan Laksamana berjalan di dalam hutan, mereka bertemu dengan
seekor burung jantan dan empat ekor burung betina. Lalu Sri Rama
bertanya pada burung jantan tentang keberadaan Sita Dewi yang diculik
orang. Burung jantan mengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya
dengan baik, tak seperti dia yang memiliki empat istri namun bisa
menjaganya. Tersinggunglah Sri Rama mendengar perkataan burung itu.
Kemudian, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya agar memgutuk burung
itu menjadi buta hingga tak dapat melihat istri-istrinya lagi. Seketika
burung itu buta atas takdir Dewata Mulia Raya.
Malam
tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor
bangau yang sedang minum di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada
bangau itu. Bangau mengatakan bahwa ia melihat bayang-bayang seorang
wanita dibawa oleh Maharaja Rawana. Sri Rama merasa senang karena
mendapat petunjuk dari cerita bangau itu. Sebagai balas budi, Sri Rama
memohon pada Dewata Mulia Raya untuk membuat leher bangau menjadi lebih
panjang sesuai dengan keinginan bangau. Namun, Sri Rama khawatir jika
leher bangau terlalu panjang maka dapat dijerat orang.
Setelah
Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama
kemudian datanglah seorang anak yang hendak mengail. Tetapi, anak itu
melihat bangau yang sedang minum kemudian menjerat lehernya untuk dijual
ke pasar. Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan
membebaskan bangau dengan memberi anak itu sebuah cincin.
Ketika
dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk
mencarikannya air. Sri Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya
anak panah agar dapat menemukan sumber air. Setelah berhasil mendapatkan
air itu, Laksamana membawanya pada Sri Rama. Saat Sri Rama meminum air
itu, ternyata air itu busuk. Sri Rama meminta Laksamana untuk
mengantarnya ke tempat sumber air dimana Laksamana memperolehnya.
Sesampai di tempat itu, dilihatnya air itu berlinang-linang. Sri Rama
mengatakan bahwa dulu pernah ada binatang besar yang mati di hulu sungai
itu. Kemudian, Sri Rama dan Laksamana memutuskan untuk mengikuti jalan
ke hulu sungai itu.
Mereka
bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat
sayapnya dan yang sebelah rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa
sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya pada Sri Rama
tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai
bercerita, ia lalu memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat
Jentayu gugur ke bumi saat berperang dengan Maharaja Rawana. Kemudian,
cincin itu diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama melihat cincin itu
memang benar cincin istrinya, Sita Dewi.
Jentayu
berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka
Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut karena di sana terdapat
gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit tersebut ada saudara
Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin
saudaranya itu mengetahui bahwa dirinya akan segera mati. Setelah
Jentayu selesai berpesan, ia pun mati.
Sri
Rama menyuruh Laksamana mencari tempat yang tidak terdapat manusia
dengan memberinya sebuah tongkat. Tetapi, Laksamana tidak berhasil
menemukan tempat itu. Lalu ia kembali pada Sri Rama. Laksamana
mengatakan pada Sri Rama bahwa ia tidak dapat menemukan tempat sesuai
perintah Sri Rama. Kemudian, Sri Rama menyuruh Laksamana untuk
menghimpun semua kayu api dan meletakkannya di tanagn Sri Rama. Lalu
diletakkannya bangkai Jentayu di atas kayu api itu dan di bakar oleh
Laksamana. Beberapa lama kemudian, api itu padam. Laksamana heran
melihat kesaktian Sri Rama yang tangannya tidak terluka bakar
sedikitpun. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat
itu.
Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:
Tema: Kesetiaan dan pengorbanan
bukti:
Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang
sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama
dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.